Alumnus SMAM 1 Gresik Ini Belajar Kedokteran Sampai Ke Tiongkok.

SAFIRA

Kali ini kami akan berbagi kabar tentang salah satu alumnus SMA Muhammadiyah 1 Gresik yang sekarang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Yuk kita berkenalan..

Safira Wachida adalah alumni SMA Muhammadiyah 1 Gresik yang lulus pada tahun 2014, kisah dia menempuh studi pendidikan kedokteran di Tiongkok berawal dari orang tua Safira yang benar-benar ingin menyekolahkan Safira untuk menjadi dokter, ketika lulus SMA tahun 2014 dia memutuskan menjadi pejuang SNMPTN dan SBMPTN dengan memilih prodi pendidikan dokter.

Sayangnya gayung tidak bersambut, Safira gagal pada kedua seleksi tersebut. Namun perjuangannya masih terus berlanjut, dia mengikuti seleksi lain di sebuah Politeknik Negeri di Surabaya dengan memilih jalur tulis dan banting setir dalam memilih program studi. Akhirnya Safira dan orang tuanya sepakat untuk menunda pendidikannya selama 1 tahun dan berencana mengikuti SBMPTN di tahun berikutnya.

Ternyata Allah menunjukkan Safira jalan lain yang tidak disangka-sangka dan tentu saja tidak pernah dia rencanakan sebelumnya. Safira mendapatkan info berkuliah kedokteran ke Tiongkok lewat jalur mandiri dari saudaranya. Kemudian dia memutuskan mengikuti kursus Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris di sebuah lembaga bimbingan belajar di Surabaya selama kurang lebih 5 bulan.

Safira juga sempat belajar Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris di Pare, Kediri. karena pada saat itu salah satu persyaratan untuk mendaftar ke PTS di Tiongkok yang dia tuju adalah dengan wajib memenuhi score TOEFL 400.

Selama berada di Tiongkok, banyak sekali suka maupun duka yang Safira alami. Peristiwa yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, pengalaman menjadi anak rantau, serta teman baru dari berbagai negara. Safira sangat bersyukur meskipun bukan lewat jalur prestasi maupun jalur tulis, Allah masih memberinya kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Tiongkok dengan program studi yang selama ini dia dan orang tuanya idam-idamkan.

Di Tiongkok dia tidak hanya belajar ilmu kedokteran, namun dia juga belajar hidup jauh dari orang tua, belajar melawan homesick, Hhidup bertoleransi dan kemandirian. Selain itu, duka yang dia rasa rasakan adalah sulitnya beradaptasi.

Banyak perbedaan yang Safira temui, baik itu perbedaan musim, makanan, budaya, terutama agama. Namun lambat-laun dia merasakan manfaat dari semua duka yang dia alami karena ternyata semua cobaan yang Allah berikan tersebut sedikit-banyak memberikan pelajaran bagi Safira untuk selalu bangun ketika dia merasa terjatuh.