Ditulis oleh:

Wiwit Dwi Wahyu, S.Hum.

(Pembina Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMAM 1 Gresik | Guru Sejarah)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Secara etimologi adalah peringatan Hari lahir Nabi Muhammad SAW, sedangkan secara terminologi peringatan Maulid Nabi Muhammad merupakan ungkapan rasa syukur dan kecintaan kepada Rosullulah Muhammad SAW. Peringatan Maulid nabi muhammad SAW sudah dilakukan sejak lama sesudah Nabi Muhammad Wafat. Subtansi dari Maulid Nabi Muhammad adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan yang ditunjukan dengan cara menyanjung, mengenang dan memulikan beliau melaui sholawat dan lain Lain.[1]

Sejarah Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi awalnya belum dilakukan  pada zaman Nabi atau Zaman Sahabat, karena tidak ada riwayat yang menyebutkan beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat tidak pernah mengadakan ihtifal (seremoni) secara khusus setiap tahun untuk mewujudkan kegembiraan karena memperingati kelahiran Nabi SAW. Bahkan upacara secara khusus untuk merayakan ritual Maulid Nabi SAW juga tidak pernah kita dari generasi tabi’in hingga generasi salaf selanjutnya. [2]

Perayaan seperti ini tidak pernah diajarkan, tidak pernah dicontohkan dan juga tidak pernah dianjurkan oleh Rasulullah SAW, para shahabat bahkan para ulama salaf di masa selanjutnya. Perayaan Maulid Nabi SAW secara khusus baru dilakukan di kemudian hari, dan ada banyak versi tentang siapa yang memulai tradisi ini. Sebagian mengatakan bahwa Shalahuddin al-Ayyubi yang mula-mula melakukannya, sebagai reaksi atas perayaan natal umat Nasrani. Karena saat itu di Palestina, umat Islam dan Nasrani hidup berdampingan. Sehingga terjadi interaksi yang majemuk dan melahirkan berbagai pengaruh satu sama lain. [3] Versi lain menyatakan bahwa perayaan Maulid ini dimulai pada masa dinasti Daulah Fatimiyyah di Mesir pada akhir abad keempat hijriyah. Hal itu seperti yang ditulis pada kitab al-A’yad wa atsaruha alal Muslimin oleh Sulaiman bin Salim as-Suhaimi. Disebutkan bahwa para Khalifah Bani Fatimiyyah mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya.


[1] Ja’far Murtadha al-Amaly, Perayaan Haul dan Hari-hari Besar Islam Bukan Suatu yang Haram, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, hlm. 21.

[2] http://eprints.stainkudus.ac.id/892/6/6.%20BAB%20II.pdf Hlm 19

[3] Ibid., hlm 20


Diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asyura, Maulid Nabi SAW bahwa termasuk Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husein serta Maulid Fatimah dan lain-lainnya.[1]

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan, seperti: pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten. Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq. Belum didapatkan keterangan yang memuaskan mengenai bagaimana perayaan Maulid masuk ke Indonesia. Namun terdapat indikasi bahwa orang-orang Arab Yaman yang banyak datang di wilayah ini adalah yang memperkenalkannya, disamping pendakwah-pendakwah dari Kurdistan. Ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa sampai saat ini banyak keturunan mereka maupun syaikh-syaikh mereka yang mempertahankan tradisi perayaan Maulid. Di samping dua penulis kenamaan kitab Maulid berasal dari Yaman (al-Diba‟i) dan dari Kurdistan (al-Barzanji), yang jelas kedua penulis tersebut mendasarkan dirinya sebagai keturunan Rasulullah, sebagaimana terlihat dalam kasidah-kasidahnya.[2]

Masuknya Tradisi Maulid di Indonesia

Perayaan Maulid merupakan salah satu sarana penyebaran Agama Islam di Indonesia, Islam akan sulit  diterima oleh masyarakat luas di Indonesia, jika  proses penyebarannya tidak melibatkan tradisi keagamaan. Terdapat catatan yang menarik bahwa tradisi perayaan Maulid merupakan  salah satu ciri kaum muslim tradisional di Indonesia. Umumnya dilakukan oleh kalangan sufi. Maka dari segi ini dapat diperoleh kesimpulan sementara bahwa masuknya perayaan Maulid bersamaan dengan proses masuknya Islam ke Indonesia yang dibawa oleh pendakwah yang umumnya merupakan kaum sufi. Hal itu dilakukan karena dasar pandangan Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’ah, corak Islam yang mendominasi warna Islam Indonesia, lebih fleksibel dan toleran dibanding dengan kelompok lain. Mempertahankan tradisi menjadi sangat penting maknanya dalam kehidupan –


[1] Nico Kaptein, Perayaan Hari Sejarah Lahir Nabi Muhammad SAW, Asal Usul Sampai Abad ke 10/16, terj Lillian D. Tedjasudhana, INIS, Jakarta 1994, hlm. 10.

[2] Ja’far Murtadha al-Amaly, Perayaan Haul dan Hari-hari Besar Islam Bukan Suatu yang Haram, Pustaka Hidayah, Bandung, 1996, hlm. 25


Tradisi Maulid Nabi di Nusantara

keagamaan mereka, berdasarkan pada kaidah Ushuludin Al-Muhafadzah li Al Qadim Al- Shalih, wa Al-Ahdza min Jadid Al-Ashlah. Inilah kemudian dalam wacana keilmuan disebut sebagai Islam Tradisional. Justru karena kemampuan dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan tradisi yang telah mengakar dalam masyarakat inilah, maka kelompok tradisional Islam berhasil menggalang simpati dari berbagai pihak yang menjadi kekuatan pedukung. Rozikin Daman memandang bahwa hal inilah yang mendorong timbulnya kelompok tradisionalisme dan sekaligus menjadi salah satu faktor pendorong bagi tumbuhnya gerakan tradisionalisme Islam.[1]

 Salah satu sarana efektif penggalangan simpati tersebut adalah pelestarian tradisi keagamaan yang populer di masyarakat, termasuk yang paling penting didalamya adalah peringatan Maulid serta pembacaan kitab-kitab Maulid, yang umumnya lebih dikenal sebagi diba’an atau berjanjen.

Teladan dalam Maulid Nabi

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab [33]: 21)

Tanggal 12 Rabiul Awal merupakan tanggal bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, karena pada tanggal tersebut lahir seorang rasul yang membawa risalah Islam. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah nabi terakhir (khataman nabiyin) yang diutus Allah SWT. untuk memperbaiki akhlak manusia. Peringatan Maulid nabi yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal pada hakekatnya sebagai upaya mengingat kembali hari kelahiran dan sejarah hidup nabi, meningkatkan komitmen memegang teguh ajarannya dan menjadikan beliau sebagai figur teladan utama bagi kaum muslimin khususnya dan setiap manusia pada umumnya. Memperingati hari lahir Nabi SAW. tidaklah dimaksudkan untuk mengkultuskannya, karena beliau tidak membolehkan umat mengkultuskannya, apatah lagi bila seseorang melakukan pengkultusan manusia biasa, seperti banyak terjadi dikalangan masyarakat saat ini. Berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, maka teladan yang paling baik adalah kepemimpinan Rasulullah SAW. Sebab beliau berhasil dengan gemilang merekontruksi akhlak masyarakat Mekah dari akhlak jahiliah menjadi masyarakat yang berakhlak mulia


[1] http://eprints.stainkudus.ac.id/892/6/6.%20BAB%20II.pdf Hlm 21


(akhlakul karimah). Tugas utama Nabi adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Keberhasilan Nabi mengubah aspek moralitas tersebut manjadi alasan Michael Hart (seorang penulis non muslim) menempatkan nabi diurutan pertama diantara 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Sekarang,.

Jika kita mempelajari sejarah hidup Rasulullah semakin membuat kita terpesona dengan model kepemimpinan yang beliau terapkan. Beliau adalah seorang kepala negara, namun beliau hidup sederhana, tidak bergelimang harta. Meskipun beliau adalah seorang panglima, namun beliau adalah panglima yang menyayangi prajurit-pajurit. Tutur katanya lembut, berwibawa dan menyenangkan siapapun yang mendengar. Tatap matanya sejuk dan menentramkan.

Sebagai umat Rasulullah, sudah sepatutnya kita menjadikan beliau sebagai figur teladan utama, apapun profesi, pangkat dan jabatan yang kita sandang. Pada dasarnya setiap kita adalah pemimpin. Suami adalah pemimpin dalam rumahtangga. Ibu pemimpin bagi bagi anak-anaknya. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya. Sehingga model manusia yang pantas dan patut kita jadikan contoh adalah Rosullulah Muhammad SAW, di moment Maulid Nabi ini marilah kita saling memahami dan menginstropeksi diri sudahkan kita meniru nabi Muhammad, yang memiliki rasa sabar ketika dia di hina  dan di hujat oleh orang orang kafir, bila kita belum bisa memiliki rasa sabar dan sifat tersebut mari kita bersama sama saling mengingatkan dalam kebaikan.

Informasi: Link inden pendaftaran peserta didik baru SMA Muhammadiyah 1 Gresik klik disini.

Share this: