Select Page

Ada baiknya kita menilik kembali sejarah kenabian pada masa Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad SAW. Para nabi membawa misi yang sama, yakni melawan segala bentuk penidindasan dan kesewang-wenagan yang dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki kapital dan kuasa yang besar.

Para nabi muncul dengan membawa niai-nilai keadilan yang telah “diselingkuhi” oleh kepentingan para kaum penguasa. Bersama para nabi, umat dikenalkan dengan konsep kesetaraan, penghormatan terhadap orang yang tidak mampu dan menebar rasa kasih bagi semua orang. Niai ini akan sulit terwujud bila masyarakat masih dilanda ketimpangan.

Berkaitan dengan hal itu, Nabi Ibrahim mulai melakukan langkah revolusioner dengan mengayunkan palu untuk menghancurkan berhala-berhala. Nabi Musa dengan tongkat dan mukjizatnya, membelah laut merah, memorak-porandakan istana Fir’aun. Sementara Nabi Muhammad SAW dengan langkah mengubah cara pandang masyrakat tertindas atau budak dengan menyatakan, bahwa meraka adalah kaum merdeka yang harus dijamin jiwa dan kehidupannya.

Nilai persamaan yang diajarkan oleh para nabi terdahulu membuat masyarakat di era sekarang mengalami kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya dan terbebas dari perbudakan. Bila kita melihat perjalanan Nabi Muhammad SAW, hampir semua sahabat beliau adalah bekas budak, di antaranya Salman, Ammar bin Yasir, Bilal bin Robbah, dan Khabab bin Alarat. Mereka merupakan kaum tertindas. Namun, tak bisa dimungkiri, mereka memegang peran penting dalam kejayaan dan kemajuan umat Islam.

Agama Islam mengajak manusia ke fase kemakmuran dan kesejahteraan asalkan manusia mengikuti syarat dan ketentuan yang telah diatur dalam ayat suci Al Quran. Syarat dimaksud adalah, pertama,  syukur, yang merupakan elemen paling penting dalam hidup. Agar manusia selalu dalam kemakmuran dan kesejahteraan hendaknya memperbanyak syukur.

Baca Juga:  Kolom Guru: Nabi Muhammad SAW, Pemimpin Terbaik yang Hidupnya Sederhana

Syukur gampang diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Hal ini tidak mengherankan kalau Allah menjamin akan menambah nikmat-Nya ketika kita bersyukur, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ibrahim ayat 7.

“Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Kedua, sederhana. Hidup sederhana dengan melakukan yang terbaik menurut syariat Islam akan membuat hidup terasa tenang dan nyaman. Jika hidup kita menderita, bukanlah karena kebutuhan hidup, tetapi lebih karena tingginya gaya hidup. Oleh sebab itu, perkecil atau sederhanakan gaya hidup, maka kehidupan akan semakin nyaman dan tentram.

Ketiga, Ikhlas. Menghadapi kehidupan yang semakin kompleks terkadang apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan realita. Maka, kuncinya adalah ikhlas dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tetunya, sebelum ikhlas, kita harus berikhtiar secara maksimal terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 59:

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: ‘Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.’ Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (*)

Penulis: Wiwit Dwi Wahyu, S.Hum.

Bagikan Konten Ini Melalui:
Baca Juga:  Kolom Ahad Pagi: Jika Ingin Sehat Hindari SAKIT
× WhatsApp Admin Available from 07:00 to 21:00