Select Page

SMAM1GRESIK.SCH.ID — Allah adalah penggerak hati dan Nurani, dan Allah lah yang kuasa akan izin-Nya sehingga kita bisa berhimpun di suasana yang fitri dengan segala kerelaan hati menggapai Ridho Illahi.

Maka rasa syukur mari terus kita panjatkan dengan segala pujian akan kebesaran kekuasaan Nya sebagai manifestasi kecintaan kita kepada sang pencipta alam semesta.

Shalawat dan salam mari terus senantiasa kita haturkan kepada sang pembawa cahaya ajaran suci agama Islam yakni Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Kepada Nabi Muhammad kita memohon syafaat. Pada hari ketika lisan hanya mampu tercekat hebat. Hanya tangan dan kaki yang bersaksi atas apa yang diperbuat. Dari syafaat, kita gantungkan harap untuk selamat di akhirat.

Dua Perspektif Makna Hari Kemenangan

Banyak narasi yang dikembangkan setidaknya di Indonesia setiap hadirnya hari raya Idulfitri sebagai hari kemenangan. Bahkan sudah sering dituliskan melalui lafaz โ€Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzinโ€ yang artinya โ€œsemoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntungโ€.

Ditambah dengan sejarah yang menyebutkan bahwa Hari Raya Idulfitri pertama kali dirayakan oleh umat Muslim pada tahun ke-2 Hijriah, yang sekaligus bertepatan dengan peristiwa Badar, ketika kaum muslimin meraih kemenangan perang skala besar untuk pertama kalinya.

Pada perayaan Idulfitri pertama ini, kaum muslimin merayakan dua kemenangan perdana yakni pencapaian ritual puasa Ramadan setelah berjuang menahan lapar, haus, dan hawa nafsu, sekaligus juga keberhasilan dalam Perang Badar.

Makna kemenangannya pun memiliki dua perspektif, spiritual dan sosial.ย  Namun sebetulnya, jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab sudah memiliki dua hari raya yakni Nairuz dan Mahrajan yang berasal dari zaman Persia Kuno. Mereka merayakannya dengan menggelar pesta pora.

Seiring dengan turunnya kewajiban menunaikan Ibadah puasa Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah, turunlah hadis Nabi. โ€œSesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idulfitri dan Idul Adha.โ€

Hakikat Kemenangan Sesungguhnya

Bulan Ramadan yang telah baru saja kita lewati menjadi media yang sangat penting dan fundamental dalam membentuk karakter yang kuat. Seperti yang sudah banyak kita pahami bahwa ย puasa Ramadan dan ibadah-ibadah lainnya, tidak berhenti pada ritual semata. Ibadah hakikatnya ialah โ€œtaqarrub ila Allahโ€ atau mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah, menjauhi larangan, dan melaksanakan apa yang diizinkan-Nya sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah.

Baca Juga:  Luar Biasa, Passion Pertanian Smamsatu Lahirkan Agri-Apps untuk Mitigasi Pertanian

Dari makna ibadah tersebut terbentuk kesalehan seorang muslim yang memiliki hubungan baik dengan Allah (habluminallah) sekaligus hubungan dengan sesama (habluminannas) dan lingkungannya, sehingga terpancar rahmat bagi semesta alam.

Tujuan besar dari Ibadah di bulan Ramadan adalah menjadi golongan orang yang bertakwa, seperti dalam firman Allah :

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู ูƒูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ

โ€œWahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.โ€ (QS Al-Baqarah : 183)

Kalau melihat uraian sebelumnya diatas ada dua konteks yakni kemenangan atau keberuntungan dalam hal Kembali kepada jiwa yang fitri dan dijadikannya orang yang beribadah puasa ditambah ibadah-ibadah lainnya sebagai orang yang bertakwa.

Maka hakikat kemenangan ini sesungguhnya menjadikan Ramadan sebagai bulan Latihan dalam menyiapkan diri sebagai pemenang hakiki sebagaimana ciri orang bertakwa dalam firman Allah:

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูู†ููู‚ููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽุฑู‘ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ุถู‘ูŽุฑู‘ูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุงุธูู…ููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุธูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุงูููŠู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู†ูŽ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS Ali Imran: 134).

Kemenangan yang tidak hanya dimaknai selesai setelah melewati aktivitas ibadah di bulan Ramadan, namun lebih dari itu yaitu menjadi kebiasaan aktivitas di bulan Ramadan menjadi kebiasaan di bulan-bulan lainnya sekaligus merawat kesucian jiwa dan hati sebagai implementasi ketakwaan kita kepada Allah. Atau dalam kata lain keberhasilan kita keluar sebagai pemenang ditandai dengan memiliki kualitas kesalehan yang otentik dan menjadi pembentuk tindakan yang mulia (al akhlaq al karimah).

Perbuatan baiknya wujud kesalehan yang murni, tidak dibuat-buat.ย  Insan muslim hasil puasa dan membentuk kualitas takwa akan menjadi aktor tangguh dari segala pandemi virus keburukan dan kemungkaran. Orang yang sungguh-sungguh bertakwa tidak akan korupsi, baik diawasi maupun tidak diawasi, ketika memperoleh peluang maupun tidak.

Masih merujuk pada QS Ali Imran 134, ibadah puasa idealnya juga harus semakin menyuburkan jiwa kasih sayang yang setidaknya teraplikasikan dalam kebiasaannya untuk terus berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit dan bersedia memberi maaf orang yang berbuat salah kepadanya bukan malah sebaliknya menjadi insan pengumbar amarah bukan penahan amarah. Jika tidak mau membantu sesama jangan bertindak semaunya.

Baca Juga:  Hadirkan Syeikh Nashiruddin dari Mesir, MBS Madinatul Ilmi Smamsatu Gelar Seminar Internasional

Jika tidak dapat memberi solusi atas masalah yang dihadapi, jangan menjadi bagian dari masalah dan mengabaikan masalah. Nilai kasih sayang antar manusia terhubung dengan kasih sayang Tuhan, sebagaimana hadits Nabi yang artinya: โ€œOrang-orang yang penyayang itu akan dikasihi oleh Yang Maha Penyayang dan Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, maka sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh makhluk yang ada di langit.โ€ (H.R. โ€˜Abdullฤh bin โ€˜Amr ra).

Tugas Kita Sebagai Pemenang

Sekarang tugas kita sebagai pemenang adalah bagaimana kita
Secara spiritual kita harus menjaga kesucian jiwa dan tidak lagi mengotorinya seperti firman Allah:

ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽ ู…ูŽู† ุฒูŽูƒู‘ูŽุงู‡ูŽุง

ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุงุจูŽ ู…ูŽู† ุฏูŽุณู‘ูŽุงู‡ูŽุง

โ€œSungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). ย dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.โ€ (QS. As-Syam 9-10)

Dengan kesucian jiwa akan mampu membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, membentengi diri dari penyimpangan dan membentengi diri dari penodaan terhadap aturan-aturan Allah.

Secara sosial dan emosional, kemenangan diartikan sebagai keberhasilan mengontrol emosi. Kemampuan mengontrol emosi berarti mengedepankan sikap kesabaran. Sabar, bukan simbol kelemahan melainkan satu kekuatan yang harus dipertahankan.
Seperti sabda Rasulullah SAW dengan derajat Muttafaq โ€˜alaih:

โ€œOrang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.โ€

Kesabaran merupakan karakter yang utama. Ketika kita puasa pun jangan membuat kegaduhan dan apabila ada orang yang mengajak bertengkar tegaskanlah โ€˜inni shaimunโ€™ atau saya sedang berpuasa.

Orang yang berpuasa akan menahan emosinya sehingga tidak membuat balasan cacian atau dendam.

Secara intelektual ditandai dengan lahirnya sosok muslim yang mampu membaca situasi dan kondisi dimana kecerdasan tidak hanya melampaui nilai-nilai yang ditentukan, tetapi juga kesesuaian antara kualitas dan kuantitas sehingga menjadi pribadi yang cerdas. Seperti sabda Rasulullah SAW:

Baca Juga:  Pesan Apel Senin Pagi Smamsatu: Maksiat Menghalangi Masuknya Ilmu

Ibnu Umarย radhiyallaahu โ€˜anhumaย berkata, โ€œSuatu hari aku duduk bersama Rasulullahย shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabiย shallallaahu โ€˜alaihi wa sallamย dan bertanya, โ€˜Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?โ€™ Rasulullah menjawab, โ€˜Yang paling baik akhlaqnyaโ€™. Kemudian ia bertanya lagi, โ€˜Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?โ€™. Beliau menjawab, โ€˜Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.โ€™ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah).

Dan juga diperkuat oleh Firman Allah SWT:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽู„ู’ุชูŽู†ุธูุฑู’ ู†ูŽูู’ุณูŒ ู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽุชู’ ู„ูุบูŽุฏู ูˆูŽุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุฎูŽุจููŠุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyir 18)

Kemenangan Hakiki

Semoga puasa tidak berhenti menjadi ritual ibadah yang formalistis mengikuti rukun syariat semata, melainkan menjadikan ibadah tahunan tersebut sebagai proses transformasi rohaniah yang aktual. Itu demi menuju terbentuknya umat Islam berkualitas dan tampil sebagai khalifah di muka bumi dan kemenangan yang hakiki.

Demikianlah, mudah-mudahan kita semua senantiasa dalam bimbingan Allah sehingga mampu menjadi pribadi-pribadi utuh dan memiliki setidaknya dua kesadaran tadi.

Kolom Idulfitri 1443 H oleh:

Ainul Muttaqin, S.P, M.Pd. (Kepala SMA Muhammadiyah 1 Gresik)

Teks ini juga disampaikan pada khutbah sholat Idulfitri di lapangan kopen desa Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur pada Senin 2 Mei 2022.

Bagikan Konten Ini Melalui:
× WhatsApp Admin Available from 07:00 to 21:00