Titik Temu Smamsatu | Oleh: Akhmad Akmal Rifqi
Pada momentum perayaan HUT RI, kita sering menyaksikan antusiasme luar biasa melalui berbagai kegiatan kebugaran publik—mulai dari jalan sehat, senam bersama, hingga lomba khas 17 Agustusan seperti lomba tarik tambang, balap karung dll. Semarak inilah yang ingin kita jaga dan dorong, terutama di saat data menunjukkan Indonesia membutuhkan gebrakan baru.
Indonesia: Negeri dengan Rata-rata Jalan Terendah
Berdasarkan sebuah studi dari Stanford University yang dipublikasikan akhir November 2024, tercatat bahwa masyarakat Indonesia hanya berjalan rata-rata 3.513 langkah per hari, jauh di bawah rata-rata global sekitar 5.000 langkah per hari . Menurut penelitian ini, penyebab utama bukan sekadar kemalasan, melainkan infrastruktur yang belum ramah pejalan kaki—trotoar yang sempit, rusak, atau disalahgunakan sebagai lahan parkir atau gerai PKL . Faktor lain adalah kebiasaan sosial dan budaya mobilitas yang mengutamakan kendaraan bermotor, serta kenyamanan instan seperti ride-hailing dan belanja online .
Kontras: Eropa dan Pengalaman Pribadi
Sebagai penulis, saya pernah melakukan tour berjalan kaki di lima negara Eropa—Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, dan Swiss. Di sana, berjalan kaki diperlakukan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan bagian alami kehidupan sehari-hari. Saat melakukan eksplorasi, saya sering mencapai rata-rata lebih dari 20.000 langkah per hari. Bayangkan: berbelanja, menikmati café, menyusuri museum, berpindah antar kota—semuanya dijalani dengan berjalan yang nyaman dan menyenangkan.
Kontras ini menegaskan bahwa bukan karena kapasitas fisik manusia, melainkan lingkungan dan budaya yang berbeda. Kota-kota Eropa membangun suasana pejalan kaki dengan trotoar luas dan terawat, pedestrian zone yang asri, ruang publik yang aman, serta transportasi publik yang mendorong orang berjalan. Di Indonesia, kecapekan jalan bukan karena malas, tetapi didorong oleh ketidaknyamanan.
Jalan Sehat di HUT RI: Lebih dari Sekadar Jalan
Momentum jalan sehat dalam rangka HUT RI bukan ajang simbolik semata, melainkan kesempatan menyemai spirit kebugaran dan memperkuat budaya aktif. Jika diisi dengan perencanaan matang—rute yang benar-benar nyaman untuk pejalan kaki, keamanan, penyediaan air minum, fasilitas duduk, ruang teduh—kegiatan ini bisa menginspirasi perubahan tersendiri.
Ini juga saat yang tepat untuk mengevaluasi: mengapa kegiatan jalan sehat hanya terjadi setahun sekali? Bagaimana agar rasa nyaman saat jalan sehat dijadikan norma, bukan pengecualian?
Solusi dan Harapan untuk Masa Depan
1. Perbaikan Infrastruktur Pejalan Kaki
Bangun dan perbaiki trotoar yang layak, lebar cukup, berkelanjutan, aman dari kendaraan, dan inklusif bagi difabel. Sediakan zebra cross, perlintasan aman, seating, area istirahat, dan peneduh alami.
2. Penegakan Ketertiban dan Kesadaran Publik
Tegakkan UU No. 22 Tahun 2009: trotoar adalah hak pejalan kaki—bukan tempat parkir atau tumpukan gerobak. Kampanye edukatif tentang hak pejalan kaki perlu digalakkan, termasuk di sekolah dan komunitas lokal.
3. Budaya Jalan Kaki sebagai Bagian Gaya Hidup
Jadikan jalan kaki sebagai bagian kebiasaan harian—untuk ke sekolah ditunjang dengan mudahnya akses transportasi publik, beli makan, atau rekreasi di akhir pekan. Dorong kota-kota menata ruang publik dengan desain ramah pejalan kaki—seperti pedestrian zone, slow zone, dan taman tematik.
4. Pemanfaatan Momentum Jalan Sehat
Jadikan jalan sehat dalam rangka HUT RI sebagai ajang starting point, bukan finis. Lanjutkan dengan program rutin komunitas, workplace wellness, dan “car-free day” lokal.
5. Harapan Bersama
Bayangkan “Indonesia 2045” di mana masyarakat sehat, kota nyaman, dan jalan kaki adalah pilihan gampang dan menyenangkan. Di mana anak-anak, lansia, pekerja, dan difabel dapat berjalan-kaki dengan nyaman setiap hari—tanpa takut terjatuh di trotoar rusak, terganggu kendaraan, atau merasa panas tak tertahankan.
Semoga bermanfaat.