Titik Temu Smamsatu | Oleh: M. Islahuddin (Guru Pendidikan ISMUBA Smamsatu Gresik)

Suara yang Lebih Didengar

Di ruang-ruang kelas dan meja makan keluarga, sering kita jumpai fenomena yang sama: anak lebih patuh pada omongan temannya daripada nasihat orang tua atau gurunya. Ketika guru mengingatkan soal tugas, murid cenderung mengabaikan. Tetapi saat seorang teman sekelas bilang, “Ayo kerjain bareng,” dengan segera ia tergerak. Demikian pula di rumah, ketika orang tua melarang anak nongkrong hingga larut, justru yang lebih didengar adalah ajakan sahabat untuk begadang.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia adalah cermin perubahan lanskap otoritas dalam masyarakat modern. Otoritas tradisional keluarga dan sekolah kini tidak lagi berdiri kokoh. Ada otoritas baru yang tumbuh, yakni peer group atau kelompok sebaya. Sosiolog Emile Durkheim sudah lama mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya adalah “upaya generasi tua untuk membentuk generasi muda.” Namun, dalam praktik hari ini, justru generasi muda saling membentuk dirinya sendiri, kadang lebih kuat daripada pengaruh orang tua atau guru.

Mengapa Teman Sebaya Lebih Didengar? Psikologi perkembangan memberi jawaban awal. Erik Erikson, tokoh penting psikologi, menjelaskan bahwa masa remaja adalah fase pencarian identitas (identity vs role confusion). Dalam fase ini, remaja lebih membutuhkan pengakuan dari teman sebaya ketimbang dari orang dewasa. Mereka ingin merasa “diterima”, “bagian dari kelompok”, dan “tidak berbeda”.

Jean Piaget, pakar psikologi kognitif, menambahkan bahwa interaksi dengan teman sebaya membantu anak belajar berpikir kritis, bernegosiasi, dan memahami perspektif orang lain. Artinya, ada fungsi perkembangan yang memang hanya bisa dipenuhi oleh kelompok sebaya, bukan oleh orang tua atau guru.

Data empiris menguatkan hal ini. Penelitian dari Pew Research Center (2018) terhadap remaja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 70% remaja merasa tekanan terbesar dalam hidup mereka bukan datang dari orang tua, melainkan dari teman sebaya, entah berupa gaya hidup, tren media sosial, atau pencapaian akademik. Hal ini menunjukkan betapa besar daya tekan suara teman sebaya.

Di Indonesia, riset yang dilakukan Pusat Kajian Perlindungan Anak UI (2021) menunjukkan bahwa lebih dari 65% remaja SMA mengaku lebih nyaman curhat pada teman sebaya daripada pada orang tua atau guru. Alasannya sederhana: teman sebaya dianggap lebih mengerti perasaan mereka, lebih bisa berbahasa yang sama, dan tidak menghakimi.

Peran Media Sosial: Peer Group Tanpa Batas Jika pada masa lalu pengaruh teman sebaya terbatas di sekolah atau lingkungan rumah, maka di era digital pengaruh ini melebar tanpa batas. Media sosial membuat remaja bisa berinteraksi dengan peer group selama 24 jam sehari, bahkan dengan orang yang tidak pernah ditemui secara langsung.

Fenomena influencer menjadi bukti. Anak-anak sering lebih percaya pada konten kreator di YouTube atau TikTok daripada nasihat guru agama di kelas. Bagi mereka, influencer adalah bagian dari peer group digital meski tidak sebaya secara usia, tetapi terasa dekat, akrab, dan otentik.

Studi dari American Psychological Association (2020) menemukan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial cenderung lebih terpengaruh oleh opini teman sebaya daring dibanding nasihat orang tua. Inilah yang disebut Sherry Turkle, profesor di MIT, sebagai fenomena alone together: anak-anak merasa selalu “bersama” dengan peer group digital, meskipun secara fisik sendirian di kamar.

Krisis Otoritas Orang Tua dan Guru
Akibat fenomena ini, otoritas orang tua dan guru seolah terkikis. Namun, alih-alih memandangnya sebagai “krisis moral”, sebaiknya dipahami sebagai pergeseran otoritas.

Sosiolog Anthony Giddens menyebutnya sebagai “refleksivitas modern”. Anak-anak hidup di dunia yang serba cair (liquid modernity, kata Zygmunt Bauman). Mereka tidak lagi menerima otoritas begitu saja, melainkan merefleksikan, membandingkan, dan memilih sendiri suara mana yang mereka anggap sahih.

Masalahnya, orang tua dan guru sering masih memakai pola komunikasi satu arah: memberi nasihat, menggurui, atau bahkan menghakimi. Padahal, generasi sekarang tumbuh dalam budaya dialog, keterbukaan, dan partisipasi. Maka wajar jika mereka merasa suara teman sebaya lebih “nyambung”.

Risiko dan Peluang
Kecenderungan anak mendengar teman sebaya memiliki dua sisi.
Risiko:
Anak mudah terjebak dalam perilaku berisiko seperti merokok, minum alkohol, atau seks bebas, karena dorongan kelompok sebaya.
Nilai moral dan etika bisa kabur jika lingkaran peer group bersifat toksik.
Terjadi peer pressure yang membuat anak kehilangan kemampuan mengambil keputusan mandiri.

Peluang:
Peer group bisa menjadi agen positif, misalnya lewat komunitas belajar, organisasi pelajar, atau kegiatan sosial.
Teman sebaya bisa membantu anak lebih percaya diri, menumbuhkan solidaritas, dan mengasah keterampilan sosial.
Orang tua dan guru bisa memanfaatkan kekuatan peer group sebagai sarana pendidikan karakter.

Penelitian oleh Joseph Allen dkk. di University of Virginia (2014) menunjukkan bahwa remaja yang memiliki peer group suportif cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih sehat secara emosional dan lebih sukses secara sosial. Artinya, kuncinya bukan menolak pengaruh teman sebaya, melainkan mengarahkan pengaruh itu ke jalur yang produktif.

Jalan Tengah: Dari Kompetisi ke Kolaborasi
Daripada bersaing dengan suara teman sebaya, orang tua dan guru sebaiknya berkolaborasi. Caranya dengan:
Membangun komunitas positif: organisasi intra/ekstrakurikuler, forum kajian, komunitas olahraga, dan seni.
Menciptakan ruang dialog: bukan hanya mengajar atau menasihati, tetapi juga mendengar cerita anak tanpa cepat menghakimi.
Mendorong peran mentor sebaya: di sekolah, misalnya, program peer counseling atau student mentor terbukti efektif. Penelitian dari Kementerian Pendidikan Singapura (2019) menunjukkan bahwa program bimbingan oleh kakak kelas menurunkan angka bullying hingga 30% di beberapa sekolah.
Menyinergikan dunia digital: orang tua dan guru bisa ikut hadir di ruang digital, bukan untuk mengawasi secara represif, melainkan untuk berinteraksi sehat, memberi contoh, dan berbagi konten positif.

Menjadi Sahabat, Bukan Sekadar Pengasuh

Fenomena anak lebih mendengar teman sebaya daripada orang tua dan guru adalah realitas sosial yang tak bisa diingkari. Ia adalah bagian dari logika perkembangan psikologis sekaligustransformasi budaya digital.

Yang perlu dilakukan bukanlah mengeluh atau menekan anak agar tunduk, melainkan membangun pola komunikasi baru: orang tua dan guru sebagai sahabat sejati. Sebab, anak tidak menolak suara orang tua atau guru karena benci, tetapi karena mereka merasa suara itu tidak selalu relevan dengan dunia mereka.

Jika orang tua dan guru mau hadir lebih otentik, lebih dialogis, dan lebih terbuka, maka suara mereka akan kembali punya tempat. Dan ketika itu terjadi, anak tidak perlu memilih: ia bisa mendengar teman sebayanya sekaligus tetap menaruh hormat pada orang tua dan guru.