Titik Temu Smamsatu | Oleh: M. Islahuddin (Guru Pendidikan ISMUBA Smamsatu Gresik)

Pagi itu, udara Madinah masih lembut. Seorang anak kecil dengan mata berbinar hendak melangkah keluar rumah. Namanya Malik. Ia ingin sekali duduk di majelis ilmu, mendengarkan seorang guru besar bernama Rabi‘ah bin Abdurrahman.

Namun, sebelum Malik sempat membuka pintu, ibunya memanggil. Dengan tangan lembut, ia merapikan pakaian anaknya. Tidak mewah, tapi pantas: bersih, rapi, berwibawa. Lalu, dengan suara yang dalam dan penuh kasih, ia berpesan:

“Nak, belajarlah adab sebelum engkau belajar ilmu. Ambillah sikap santunnya gurumu, sebelum engkau serap kata-katanya.”

Kalimat itu bagai panah cahaya, menembus hati Imam Malik kecil. Dan kelak, pesan sederhana seorang ibu inilah yang membuatnya tumbuh menjadi Imam Malik, salah satu ulama besar yang namanya harum hingga berabad-abad.

Adab Itu Wadah, Ilmu Itu Isi

Kita bisa membayangkan perasaan Imam Malik waktu itu. Ia begitu bersemangat ingin jadi pintar, ingin tahu banyak hal. Tetapi ibunya justru menekankan sesuatu yang jarang terpikir oleh anak-anak: belajarlah adab dulu.

Kenapa? Karena ilmu itu seperti air. Jika wadahnya kotor atau retak, airnya akan keruh, bahkan tumpah. Wadah itu adalah diri kita: sikap, hati, karakter. Tanpa wadah yang baik, ilmu justru bisa jadi senjata yang menyakiti orang lain.

Di era Gen-Z sekarang, kita terbiasa dengan kecepatan: scroll cepat, jawab cepat, dapat informasi cepat. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah hati kita sudah siap menerima semua itu? Atau kita hanya jadi “pintar” di layar, tapi kosong dalam jiwa?

Cermin Zaman Digital

Lihat saja fenomena hari ini. Ada anak SMA yang jago coding, tapi tidak bisa menyapa gurunya. Ada mahasiswa yang fasih bicara teori, tapi enggan antre dengan sabar. Ada influencer yang punya jutaan followers, tapi kehilangan rasa hormat pada orang tua.

Apakah ini yang disebut maju? Atau justru kita sedang kehilangan inti dari pendidikan: adab sebagai pondasi.

Psikolog pendidikan Thomas Lickona pernah bilang, “Pendidikan tanpa karakter ibarat menanam benih di tanah tandus tumbuh cepat tapi rapuh.” Kita bisa lihat buktinya: banyak anak muda cerdas, tapi gampang marah, gampang tersinggung, gampang patah.

Kisah Ibu Itu Masih Hidup

Bayangkan, di tengah hiruk-pikuk zaman digital, pesan ibu Imam Malik itu muncul kembali dan berbisik pada kita:

“Nak, jangan hanya sibuk mencari ilmu. Siapkan dulu dirimu. Lembutkan hatimu, jaga sikapmu, hormati gurumu. Maka ilmu yang masuk akan jadi cahaya, bukan hanya data.”

Bukankah itu yang kita butuhkan sekarang? Bukan sekadar generasi yang melek teknologi, tapi juga melek hati.

Untuk Kita, Anak Zaman Now

Ibu Imam Malik mungkin tak pernah mengenal TikTok, Instagram, atau YouTube. Tapi pesannya terasa abadi, bahkan lebih relevan untuk kita hari ini.

Jika ingin benar-benar berilmu, mari siapkan dulu wadahnya. Bukan hanya otak yang cerdas, tapi hati yang lapang. Bukan hanya skill yang mumpuni, tapi sikap yang rendah hati.

Sebab ilmu tanpa adab hanya akan menjadikan kita pintar sendirian, sementara ilmu dengan adab akan menjadikan kita bijak bersama orang lain.

Dan mungkin, itulah hadiah terbesar seorang ibu untuk anaknya: menjadi manusia, sebelum menjadi pintar.


“Belajarlah adab sebelum ilmu.” Ibu Imam Malik

“Pendidikan tanpa karakter hanyalah benih di tanah tandus.” Thomas Lickona

“Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan masuk ke hati yang kotor.” Imam al-Ghazali