Titik Temu Smamsatu | Oleh: M. Islahuddin (Guru Pendidikan ISMUBA Smamsatu Gresik)

Ada kalimat yang membuat saya berhenti sejenak: bahwa menjadi pendidik adalah “jalan ninja” yang super duper penting. Frasa ini, walau terdengar kekanak-kanakan, justru membongkar kesadaran kita yang dewasa bahwa profesi guru telah lama kehilangan aura petualangannya.

Dunia pendidikan kita begitu lelah dengan jargon “transformasi digital,” “kurikulum merdeka,” ” Pembelajaran Mendalam ( Deep Learning) “, dan akreditasi yang membuat guru lebih sering mengisi formulir ketimbang membakar semangat murid-muridnya. Maka ketika seorang penulis menyebut profesi ini sebagai “jalan ninja,” saya justru teringat pada para Ronin, para samurai tanpa tuan yang dengan setia memegang pedang batinnya untuk melindungi nilai-nilai luhur yang perlahan ditinggalkan.

Di antara riuh rendah perdebatan tentang kurikulum, sertifikasi guru, hingga digitalisasi sekolah, ada satu ruang yang kerap luput dari perhatian publik: jalan sunyi seorang pendidik. Jalan itu tidak berlampu sorot, tak selalu mendapat tepuk tangan, bahkan sering kali dipenuhi sepi. Namun justru di situlah inti pendidikan bekerja diam-diam, tanpa gegap gempita, tetapi mengubah wajah peradaban.

Ada puisi WS Rendra, bukan sebagai penyair untuk dibaca, tapi sebagai suara yang menggugah. Judul puisinya “Seonggok jagung di kamar,” puisi yang tidak dimaksudkan untuk guru, namun malah terasa sangat relevan: pendidikan yang seharusnya membebaskan, kini justru menciptakan sekian banyak penjara baru kurikulum, nilai ujian, dan ranking. Pendidikan lalu menjadi sebuah pabrik, bukan ladang subur.

Kita sering terjebak melihat guru hanya sebagai profesi, bukan sebagai panggilan hidup. Padahal, sebagaimana pernah dikatakan Ki Hajar Dewantara, “guru adalah pamong, yang menuntun tumbuhnya jiwa anak sesuai kodratnya.” Tugas itu jelas bukan perkara sederhana. Seorang pendidik sejati harus berani menapaki jalan panjang, yang kadang melelahkan, tanpa jaminan balas jasa sepadan.

Antara Profesi dan Panggilan

Dalam diskursus pendidikan modern, guru ditempatkan pada dua dimensi: profesi dan panggilan. Sebagai profesi, guru tunduk pada standar kompetensi, sertifikasi, dan birokrasi. Tetapi sebagai panggilan, guru adalah “rasul peradaban” ia membawa misi membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan beradab.

Di sinilah letak “jalan sunyi” itu. Jalan yang menuntut integritas, kesabaran, dan kesetiaan. Sosiolog pendidikan Philip Jackson pernah menulis tentang the hidden curriculum pelajaran tak tertulis yang lebih menentukan watak anak dibanding materi akademik. Guru yang datang tepat waktu, menepati janji, dan menunjukkan kasih sayang, sesungguhnya sedang mengajarkan kejujuran, disiplin, dan empati tanpa perlu banyak kata.

Pendidik di Tengah Modernitas

Era digital membuat dunia pendidikan berlari kencang. Anak-anak kini lebih cepat belajar dari gawai dibanding buku teks. Otoritas guru pun sering dipertanyakan. Namun di tengah derasnya arus modernitas, justru nilai-nilai keheningan, kesabaran, dan teladan moral menjadi semakin berharga.

Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan transformasi nilai. Artinya, guru tidak cukup menjadi instruktur akademik, tetapi juga harus hadir sebagai teladan moral yang menanamkan keadaban.

Jalan sunyi seorang pendidik adalah keberanian tetap berjalan, ketika dunia lebih sibuk merayakan prestasi instan. Ia memilih menyalakan lilin kecil dalam kegelapan, alih-alih menunggu lampu sorot yang tak kunjung tiba.

Membaca Ulang Kesunyian

Mungkin benar bahwa penghargaan terhadap guru sering tak sebanding dengan pengorbanannya. Namun di titik inilah kita perlu membaca ulang jalan sunyi itu. Kesunyian bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang tersembunyi. Dalam sunyi seorang guru menyiapkan pelajaran, mendoakan muridnya, hingga memikirkan nasib bangsa. Dalam sunyi pula lahir generasi yang kelak akan bersuara lantang di ruang publik.

Kita butuh keberanian untuk mengakui bahwa kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari gegap gempita politik atau ekonomi semata, tetapi dari ruang-ruang kelas yang sederhana. Di sanalah para pendidik menorehkan sejarah, meski tanpa tanda jasa besar.

Penutup

Membaca ulang jalan sunyi seorang pendidik berarti memberi ruang hormat kepada mereka yang memilih mengabdi pada nilai, bukan pada sorotan. Kita belajar bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengajar, melainkan menuntun. Bukan sekadar profesi, melainkan laku hidup.

Dan jika hari ini kita masih bisa berharap pada masa depan bangsa, itu karena di belakang kita ada guru-guru yang rela berjalan dalam sunyi, demi menyalakan cahaya.

Dari situlah letak harapan yang tersisa bagi dunia pendidikan kita bukan pada kementerian, bukan pada kurikulum, bukan pula pada para pemilik gelar panjang di belakang namanya melainkan pada orang-orang seperti penulis buku ini, yang diam-diam menanam, menyiram, dan membiarkan pohon tumbuh tanpa gegap gempita.

Sebab pendidikan, pada akhirnya, bukan soal membuat anak-anak pintar menjawab soal, tapi membuat mereka tak pernah lelah bertanya. Dan di antara kegaduhan negeri yang sibuk dengan akreditasi dan ranking, buku ini mengingatkan kita bahwa membumi bukan berarti kalah, justru barangkali di sanalah kemenangan sejati seorang pendidik ditemukan: saat ia tak merasa perlu jadi siapa-siapa, kecuali menjadi teman seperjalanan dalam belajar menjadi manusia.