Select Page

Ditulis oleh:

Drs. A. Mudhoffar, M.MPd.

(Mudir/Direktur Pondok Madinatul Ilmi & Muhammadiyah Boarding School SMAM 1 Gresik | Guru Al Islam)

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 21:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا

 Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

QS al-Ahzab: 21

Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah SAW. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya. Meneladani Rasulullah SAW. tidak hanya dicukupkan pada pribadinya saja, melainkan secara keseluruhan termasuk dalam berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara.

Rasulullah SAW adalah  sosok manusia sempurna: pemimpin umat, penguasa jazirah Arab, bahkan Allah SWT telah menjamin surganya untuknya.  Dengan status yang sedemikin tinggi dan terhormat, sesungguhnya apa yang diinginkan Rasulullah, tentu tak sulit untuk dikabulkan, baik oleh Allah SWT maupun umatnya.Bahkan, dalam sebuah riwayat, Allah SWT pernah menawarkan emas sebanyak butiran pasir di gurun Kota Makkah kepada Rasulullah. Nabi Muhammad SAW bisa  saja merengkuh segala kesenangan dunia itu; harta, dan kekayaan materi. Namun, Rasulullah adalah sosok teladan yang mulia.

Beliau tak pernah silau dengan  kenikmatan duniawi. Nabi SAW lebih memilih kehidupan yang sederhana. Hal itu tercermin dari jawaban Rasulullah atas butiran emas yang ditawarkan Sang Khalik kepadanya. ”Tidak, ya Tuhanku, lebih baik aku lapar sehari, dan kenyang sehari. Bila kenyang, aku bersyukur memuji dan memuja-Mu, dan jika lapar aku akan meratap berdoa kepada-Mu.”

Baca Juga:  Kolom Guru: Memaknai Kemenangan Hakiki di Hari yang Fitri

Maka tak heran, kehidupan pribadi dan rumah tangga Rasulullah banyak diisi dengan kisah kesederhanaan. Sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim menggambarkan secara jelas sifat zuhud serta kesederhanaan Nabi. Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab menemui Rasulullah di kamarnya.

Di sana, Umar melihat Rasul sedang berbaring di atas sebuah tikar kasar, dan hanya berselimutkan kain sarung. Kemudian, terlihatlah guratan tikar yang membekas di tubuh Rasulullah SAW. Umar pun melayangkan pandang ke sekeliling kamar.

Dilihatnya segenggam gandum seberat kira-kira satu sha’, daun penyamak kulit, dan sehelai kulit binatang. Menyaksikan kesederhanaan Rasulullah SAW,  Umar pun tak kuasa menahan air matanya. ”Apa yang membuatmu menangis, ya putra Khattab?” ujar Rasulullah bertanya kepada Umar.

Umar pun menjawab, ”Bagaimana aku tak menangis, ya Rasul, di pinggangmu tampak bekas guratan tikar, dan di kamar ini aku tidak melihat apa-apa, selain yang telah aku lihat. Sementara raja Romawi dan Persia bergelimang buah-buahan dan harta, sedang engkau utusan Allah SWT.”

Rasulullah pun bersabda, ”Wahai putra Khattab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” Rasulullah dan keluarganya menerapkan hidup sederhana. Sebagai pemimpin umat, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk senantiasa mensyukuri setiap rezeki halal yang dianugerahkan Sang Pencipta.

Saat wafatnya pun, Nabi tidak meninggalkan warisan berupa harta benda. Hanya dua hal yang ia wariskan untuk umatnya, yakni Alquran dan Sunah. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah kerap mengingatkan agar umatnya tak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan hidup.

Nabi SAW mengumpamakan kehidupan dunia bagaikan berjalan di hari panas, lalu berhenti sejenak sekadar beristirahat, dan tidak lama lagi tempat itu akan ditinggalkan. Jadi, dengan kata lain, Islam adalah agama yang berlandaskan nilai kesederhanaan yang tinggi, seperti dicontohkan Rasulullah tadi.

Dari pengertian ini, sederhana adalah sikap yang mengedepankan kebijaksanaan dalam memenuhi kebutuhan hidup, tidak berlebihan, atau menghamba materi. Dengan itu, seseorang dapat memilah mana yang harus menjadi prioritas, baik perhatian, tenaga maupun harta.

Baca Juga:  Dialog Viral Layangan Putus Salah Grammar? Ini Tanggapan Mr. Ali, Guru Bahasa Inggris Smamsatu Gresik

Sebaliknya, jika tidakmemiliki kebijaksanaan, seseorang cenderung mengikuti hawa nafsu yang justru dapat menjerumuskannya dalam kesengsaraan dunia dan akhirat.

”Tidak akan susah bagi siapapun yang sederhana dalam perbelanjaan.” (HR Muslim).Hidup sederhana, seperti dicontohkan Nabi, haruslah menjadi pedoman hidup umat Islam. Ini pula yang mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menerbitkan fatwa terkait anjuran untuk hidup sederhana.

Pada  8 Februari 1976, para ulama di Tanah Air telah menetapkan fatwa yang melarang umat Islam melarang  untuk hidup dari uang hasil korupsi, lantas bermewah-mewahan, dan royal. Islam justru mengajurkan hidup sederhana secara wajar.

Allah SWT dalam surat al-Israa ayat 26-27 berfirman,

وَاٰتِ ذَا الْقُرْبٰى حَقَّهٗ وَالْمِسْكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا

Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Q.S Al-Israa: 26-27

Para ulama telah meminta kepada presiden untuk mengeluarkan intruksi terkait anjuran hidup sederhana dan pelarangan hidup bermewah-mewah bagi para pejabat. Anjuran serupa juga ditujukan bagi segenap umat. Hendaknya, setiap pemimpin, ulama dan umat meneladani hidup sederhana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Informasi: Link inden pendaftaran peserta didik baru SMA Muhammadiyah 1 Gresik klik disini.

Bagikan Konten Ini Melalui:
Baca Juga:  Islam Kiri, Gagasan Perubahan dan Kemakmuran Umat
× WhatsApp Admin Available from 07:00 to 21:00